Sejarah Desa
Legenda Desa Terong
Di zaman kala sejarah Desa Terong ini, Ada beberapa kelompok rumah warga yang pada saat itu belum banyak ditempatkan oleh para warga sekitar. Sebelum Desa Terong, Kampong ini bernama Kampong SUAK (yang artinya Ditinggak/Diselik/Dijungaek/di), Dahulu Di daerah tersebut adalah Muara Sungai Terong yang menjadi satu-satunya pelabuhan yang banyak di singgahi oleh Kapal – kapal Luar, yang sekarang tempat itu di kenal dengan nama BARAN. Di Tempat itu juga di jadikan tempat aktivitas oleh penduduk setempat untuk membuat kapor sirih dari kulit kerang atau kulit kimak, di Baran inilah tempat penduduk sekitar memantau kapal – kapal yang akan berlabuh di kampong Suak ini. Dari Kampong Suak menjadi Kampong Terong karena pada zaman itu, semakin banyaklah berdatangan kapal-kapal Lanun/Bajak Laut/Raas yang singgah di Sungai Terong ini, dan mereka bermaksud menjajah atau menjadikan kampong suak ini sebagai salah satu daerah jajahannnya setelah zaman Hindia Belanda. Banyak penduduk Kampong Suak ini yang di jadikan tawanan dan Budak serta di Bunuh oleh Bajak Laut dengan sangat kejam dan sadis. Seiring dengan banyaknya berdatangan kapal-kapal yang berlabuh di Sungai, munculnya seorang sosok Perempuan yang sakti mandraguna dengan ciri khasnya dengan ilmu sirep/Teluh yang sangat ampuh dalam menghadapi setiap kelompok Bajak laut ataupun penjajah yang bermaksud mengacaukan kampong Suak ini, beliau terkenal dengan nama Nyi Dasima, dengan tersohornya nama beliau di kalangan para Bajak Laut, para kapal – kapal yang datang hanya menjual dan membeli hasil bumi yang terdapat di masyarakat sekitar atau menggunakan sistem Barter, hingga pada suatu saat berhasilnya diculik warga kampong Suak ini yang bernama Abu Bakar, yang merupakan seorang tokoh di Kampong Suak ini yang terkenal dengan Ilmu Agama dan ilmu pengetahuan. Abu Bakar ini dijadikan tawan dan dijadikan tenaga kerja Paksa oleh oleh bajak laut. Setiap hari Abu Bakar ini dipaksa kerja dan dijadikan anak buah dalam setiap perampokan di suatu daerah jajahan yang baru. Sehingga sampailah pada suatu daerah asal Bajak laut, yang dikenal dengan hidup berkelompok, mereka tidak bisa pergi kesuatu daerah di karenakan cuaca yang tidak menentu untuk berlayar, dari satu pulau ke pulau lain, si Abu Bakar inilah yang banyak membantu kelompok bajak laut ini dalam mempertahankan hidup untuk menangkap ikan dan hasil Laut lainnya, mereka diajarkan dengan pendidikan Agama yang dianut oleh Abu Bakar, hingga akhirnya Kelompok ini mempercayakan Abu Bakar sebagai bagian dari Kelompok bajak laut tersebut. Walaupun beliau sudah dianggap sebagai bagian dari Bajak Laut, Abu Bakar tetap ingin kembali ke tanah kelahirannya yaitu di kampong Suak, sampai keadaan kembali normal dan kelompok Bajak laut kembali mencari daerah jajahan yang baru hingga sampailah pada suatu pulau Mendanau yang dikenal oleh Abu Bakar bagian dari Pulau Belitong dan Kaum Bajak Laut ini turun disertai dengan Abu Bakar berlabuh di Pulau Tersebut. Sebelum Turun ke Pulau Tersebut Abu Bakar berpesan seandainya kalian mau melanjutkan perjalanan ke pulau lain, tetapi saya belum ada/tiba kalian silahkan melanjutkan kepulau lain, dengan pesan itulah kelompok Bajak laut tidak lagi menunggu Abu Bakar dan melanjutkan perjalanan mencari daerah jajahan dan menjual hasil tangkapannya, dan kelompok bajak laut itu kami akan kembali menjemput Abu Bakar dan menjadikan Abu Bakar sebagai Keluarga sampai kapan pun, Abu Bakar Juga Berpesan jangan sekali – sekali mengganggu keluarga beliau yang ada di Kampong Suak dan Kampong – kampong lain di pulau Belitung. Abu Bakar dari Pulau Mendanau sampailah di Tanjungpandan dan Tibalah di Kampong Suak, Keluarga yang di tinggalkan tidak percaya mendapati kedatangan Abu Bakar hingga sampai Abu Bakar mempunyai Keturunan di Kampong Suak itu, sampai dengan berubahnya kampong Suak itu menjadi kampong Terong, sampai Abu Bakar di makamkan di Tempat Pemakaman Umum TPU “BANSER” Desa Terong. Dari situlah cerita Kampong Suak berubah menjadi kampung Terong, Terong di artikan disini adalah kampung Yang Tertolong, yaitu oleh Nyi Dasima dan Abu Bakar. Tempat Pemakaman Nyi Dasima berlokasi di Sekitaran hutan Aik Ikan, Karena Suasana kondusif Nyi Dasima mengikuti Penduduk sekitar merambah ke Hutan sampai di temukannya makam beliau (Nyi Dasima) tersebut.
Where does it come from?
Contrary to popular belief, Lorem Ipsum is not simply random text. It has roots in a piece of classical Latin literature from 45 BC, making it over 2000 years old. Richard McClintock, a Latin professor at Hampden-Sydney College in Virginia, looked up one of the more obscure Latin words, consectetur, from a Lorem Ipsum passage, and going through the cites of the word in classical literature, discovered the undoubtable source. Lorem Ipsum comes from sections 1.10.32 and 1.10.33 of "de Finibus Bonorum et Malorum" (The Extremes of Good and Evil) by Cicero, written in 45 BC. This book is a treatise on the theory of ethics, very popular during the Renaissance. The first line of Lorem Ipsum, "Lorem ipsum dolor sit amet..", comes from a line in section 1.10.32.